Jagung Titi Desa Waienga - Lembata

Upaya melestarikan Pangan Lokal

Cornelia Niar Riani - Timlo.net
Senin, 21 Juni 2010 | 10:34 WIB
  • Share
Sumber/pewartaindonesia.com
Ibu Sarifah (48) sedang membuat jagung titi.

Lembata – Dari dalam sebuah pondok kecil berukuran sekitar 2 x 3 m, Sarifah (48 tahun) memulai aktivitas hariannya. Tempat ini berfungsi sebagai tempat memasak sehari-hari, termasuk untuk untuk membuat “Jagung Titi”.  Hampir setiap hari ia meniti jagung (menumbuk butiran jagung menjadi pipih seperti kripik). Seperti umumnya masyarakat di Desa Waienga, Lembata, Ibu Sarifah menggunakan peralatan yang sangat sederhana, seperti priok tanah kecil untuk menyangrai butiran jagung, batu ceper sebagai landasan untuk meniti, dan batu berbentuk lonjong yang berfungsi sebagai penumbuk (titi). 

”Beta membuat jagung titi sejak dari kecil, keterampilan dan kemahiran membuat jagung titi didapat secara turun temurun”., kata Sarifah. Membuat jagung titi biasanya dilakukan pada subuh sampai menjelang pagi. Kegiatan ini dilakukannya sebelum ke kebun. Proses pembuatan jagung titi dimulai dengan menyangrai butiran-butiran jagung pipilan dalam priok tanah. Ini dilakukan Cukup menggunakan kayu bakar yang sedikit saja agar jagung tidak cepat gosong.

Setelah berwarna agak kekuningan atau sekitar 3 menit disanggarai, 3-4 butir jagung diambil langsung dari priok menggunakan tangan tanpa alas lalu diletakkan di atas batu landasan. Butiran jagung tadi ditumbuk (dititi) menggunakan batu lonjong seberat 2 kg. Diperlukan ketepatan waktu antara meletakan butiran jagung dan menarik telapak tangan  agar tidak terpukul. Dengan sekali titi saja, sudah jadilah jagung titi.

Menyantap jagung titi biasanya dibarengi dengan ”lawar”, sejenis makanan berbahan utama ikan-ikan kecil (sejenis ikan teri segar) yang direndam beberapa menit di dalam cuka yang telah ditambah dengan cabe dan bawang. Dengan sendirinya ikan-ikan kecil ini akan melunak dan setengah matang. Jagung titi dapat juga dikonsumsi sebagai cornflakes, yaitu disantap bersama susu.

Jagung titi ini tidak hanya untuk konsumsi sendiri juga untuk di jual untuk menambah penghasilan keluarga karena pemasaran jagung titi tidak sulit. ”Masyarakat desa kami umumnya melakukan kebiasaan membuat jagung titi ini. Sebagian untuk konsumsi, dan sebagian lagi untuk dijual.  3 mangkok plastik dihargai Rp 10.000,00.”, jelas Barnabas, Kades Waienga.

Pola pemasaran yang dilakukan masih sangat sederhana. Biasanya jagung titi dijual kepada pemesan di sekitar kampung atau dijual di pasar setempat dan umumnya masih dalam jumlah yang terbatas. Setidaknya masih ada upaya masyarakat Desa Waienga untuk melestarikan pangan lokal. Karena mereka cukup menyadari bahwa pangan utama mereka sebenarnya bukanlah beras.  Suatu kearifan lokal yang membutuhkan dukungan pemangku kepentingan. Kita patut memberikan apresiasi terhadap kearifan lokal ini di tengah-tengah modernisasi gencarnya promosi makanan siap saji.

(Diolah dari pewartaindonesia.com)

Dikirim melalui Timlo.Net - Portal Informasi Solo  
        

Berita Terkait

  • Tidak Ada Berita Terkait

Komentar

  1. ferry lasar

    ekspouse nama orang tu yang jelas sedikit bro. nama yang sebenarnya adalah "yasinta" bukan sarifah.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. wajib diisi yang bertanda *

*


*

 

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Minicaster Radio Playhead

To listen you must install Flash Player. Visit Draftlight Networks for more info.